Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bullying? Hadapi Saja

Bullying? Hadapi Saja

Bullying? Hadapi Saja

Libur telah usai, saatnya sekolah lagi. Siapa yang pernah menjadi siswa atau mahasiswa baru pastinya pernah merasakan masa orientasi siswa baru atau ospek. Masa perkenalan ini menjadi salah satu masa yang menegangkan. Walaupun saat ini telah banyak perubahan dari masa perploncoan di masa lalu, nuansa pernak-pernik ospek masih tetap kental terlihat. Mulai kostum yang penuh warna sampai tugas-tugas yang aneh. Bahkan, lebih aneh dari ngidamnya ibu-ibu yang tengah hamil muda. Permintaan itu wajib dipenuhi walau tidak termasuk dalam tata tertib sekolah.

Bila ditarik benang merahnya, semua masa orientasi siswa baru memiliki makna yang sama. Yaitu, saat dihalalkannya mengerjai adik kelas. Walau pihak sekolah telah mewanti-wanti untuk tidak bertindak keterlaluan, masih saja ada kakak kelas yang nakal dan menganggap bahwa apa pun yang terjadi dalam masa orientasi tidak lebih dari sekadar menjalankan tradisi turun temurun.

Masa-masa orientasi yang pada awalnya hanya untuk seru-seruan atau ajang unjuk gigi senior akhirnya dapat pula mengarah pada tindakan bullying atau kekerasan. Bullying sendiri tidak hanya terbatas pada tindakan fisik seperti pemukulan, tetapi juga secara psikologis seperti merendahkan citra diri. Yaitu, mengejek, mencela fisik dan penampilan, ancaman, hingga pelecehan. Tidak hanya dapat terjadi saat ospek, bully dapat pula terjadi pada hari-hari sekolah. Bukan hanya dilakukan kakak kelas, tapi juga teman sebaya bahkan guru.

Tetapi, kita tidak lantas menjadi paranoid. Sebab, kita tidak mungkin melarang anak kita ke sekolah. Di samping itu, kita juga tidak mungkin dapat melindunginya setiap saat. Langkah yang terbaik adalah mengajarinya untuk dapat bersikap asertif dan membela dirinya sendiri. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan saat anak kita mendapat perlakuan yang kurang nyaman:

  1. Ajarkan untuk bersikap tegas. Ajarkan pada anak untuk berdiri tegak dan menunjukkan kepercayaan diri, tegakkan kepala serta menggunakan suara keras.
  2. Sepakatlah dengan pengusik. Misalnya, ada yang mengatakan “Hei gendut”. Anak menjawab “Ya kamu benar”.
  3. Olok-oloklah sindiran tersebut, tetapi bukan dengan menyindir balik. Misal “Kamu bodoh”. Anak menjawab “Ya, terima kasih sudah memberi tahu aku”.
  4. Abaikan gangguan tersebut. Para pengusik suka jika sindirannya dapat mengganggu korban-korban mereka.
  5. Bantulah anak supaya gangguan tersebut tidak melukai perasaannya. Dengan mengalihkan pandangan atau pura-pura tidak melihat merupakan hal yang efektif untuk menghindari pengusik.
  6. Beri tahu anak tentang apa saja yang menjadi haknya di sekolah, termasuk mendapat perlakuan yang baik dan sewajarnya. Jadi, jika ada yang memperlakukannya dengan tidak baik, dia dapat menolak dengan tegas.
  7. Ajarkan untuk tidak perlu takut melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang dia terima pada pihak yang memiliki kewenangan di sekolah.

Jika kita melihat dari sisi yang berbeda, sebenarnya, ada pula segi positif dari masa orientasi siswa. Misalnya, dapat merekatkan hubungan antar teman baru. Seperti kata pepatah, teman akan ditemukan pada saat penderitaan. 

Begitu halnya dengan masa orientasi berat yang membuat hubungan pertemanan menjadi lebih dekat, banyak hal yang bisa didapat di sekolah, bahkan saat mendapat gangguan sekalipun. Mendapat gangguan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Sebab, di situlah anak kemudian dapat belajar mengontrol emosi, membela diri, tetapi dengan tidak membalas menyakiti.

Posting Komentar untuk "Bullying? Hadapi Saja"