Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masturbasi, Normalkah?

Masturbasi, Normalkah?

Masturbasi, Normalkah?

Masturbasi adalah menikmati diri sendiri. Sensualitas tubuh dirangsang sedemikian rupa sehingga menghasilkan orgasme. Tidak dibutuhkan pasangan untuk melakukannya. Padahal, manusia diciptakan berpasangan dengan dua jenis kelamin berbeda, dan tentu saja untuk melakukan hubungan seksual. Atas alasan itulah masturbasi dianggap tidak normal. Masturbasi digolongkan sebagai perilaku abnormal atau lebih tepat jika dikatakan sebagai perilaku amoral alias tidak bermoral.

Pandangan kelam tentang masturbasi ini berawal dari pandangan kelam agama-agama abrahamik terhadap seks. Dalam ketiga bentuk agama Samawi, yakni Yahudi, Kristen dan Islam, seks hanya dipandang sebagai bagian dari proses prokreasi atau menghasilkan keturunan. 

Masing-masing agama berikut alirannya memang berbeda dalam penekanannya, tapi secara umum mereka sama, seks tidak layak dilakukan jika hanya untuk bersenang-senang sebab seks adalah suci. Hanya bersenang-senang dalam seks menandakan kontrol diri yang rendah.

Seks memang untuk bersenang-senang, tapi itu hanya layak dilakukan jika merupakan bagian dari proses prokreasi. Jika tidak, maka apapun bentuknya, seks tersebut adalah hal terlarang. Jadi, hanya aktivitas seksual yang bisa melahirkan keturunan yang diperbolehkan, yakni hubungan seksual atau “intercourse” alias bertemunya penis dan vagina. Di luar itu aktivitas itu tidak layak dilakukan, sebut saja masturbasi, anal seks, dan oral seks. Ketiganya umumnya dilarang dalam berbagai sekte keagamaan.

Terlepas dari isu-isu moral itu, mari melihat masturbasi semata-mata dari masturbasinya itu sendiri. Apakah dalam hakikatnya masturbasi itu perilaku abnormal? 

Ada beberapa kategori berbeda untuk menggolongkan suatu perilaku disebut abnormal.

  1. Kategori jumlah. Perilaku dikatakan abnormal jika dilakukan oleh minoritas orang.
  2. Kategori bahaya. Sebuah perilaku dikatakan abnormal jika membahayakan pelakunya atau orang lain.
  3. Kategori kerugian. Perilaku dianggap abnormal jika merugikan dirinya ataupun orang lain, meskipun tidak membahayakan.
  4. Kategori hambatan. Sebuah perilaku disebut abnormal jika menghambat aktivitas lain yang normal.
  5. Kategori manfaat. Sebuah perilaku bisa dikatakan tidak normal jika dilakukan terus menerus tanpa memberikan manfaat apapun.

Nah, mari kita melihat satu persatu per kategori.

Apakah masturbasi dilakukan oleh minoritas orang?

Tidak. Faktanya, survei yang dilakukan secara berulang-ulang di berbagai belahan bumi menemukan hasil konsisten bahwa pelaku masturbasi mencakup antara 80-96% populasi pria, dan 60-90% populasi wanita. Angka yang paling umum diterima adalah 95% pria dan 89% wanita. Jadi, masturbasi bukanlah perilaku yang dilakukan minoritas orang. Berdasarkan kategori jumlah ini, masturbasi harus digolongkan sebagai perilaku normal.

Masturbasi hanyalah salah satu dari beberapa aktivitas seksual yang biasa dilakukan manusia. Tiga yang paling populer adalah hubungan seksual vaginal atau memasukkan penis ke vagina (perilaku seks paling umum), seks oral (merangsang organ genital, baik penis maupun klitoris dengan mulut), dan anal seks (memasukkan penis ke anus). Selain itu masih ada banyak teknik lainnya, misalnya nipple sucking (menghisap puting susu perempuan maupun laki-laki), fingering (menstimulasi vagina dengan tangan), bagpiping (menggesek-gesekkan penis ke ketiak pasangan), pijatan erotik (memijat seluruh tubuh secara erotis), footjob (menstimulasi penis pasangan dengan kaki), handjob (menstimulasi organ genital pasangan dengan tangan), sampai mammary (menggesek-gesekkan penis di antara dua payudara).

Apakah masturbasi membahayakan?

Dari sisi medik tidak ada bahaya yang berhasil dikenali dari perilaku bermasturbasi. Paling-paling terjadi lecet pada kulit penis atau dinding vulva akibat kurangnya cairan lubrikasi ketika melakukannya. Tapi toh, ketika melakukan hubungan seksual vaginal, kejadian tersebut juga bisa terjadi. Kadang kala penis dan vagina lecet karena permainan seks yang kasar antar pasangan.

Masturbasi bahkan jauh lebih aman ketimbang hubungan seksual melalui vagina atau anus atau oral seks dari sisi penularan penyakit. Tidak ada risiko tertular penyakit di sana. Bagaimana bisa tertular, lha kamu sendirian melakukannya. Untuk bisa tertular, kamu butuh orang lain untuk menularkannya. Pikirkanlah, lebih aman mana berhubungan seks dengan pelacur atau bermasturbasi? Sudah pasti 100% lebih aman bermasturbasi.

Dalam kategori bahaya ini, masturbasi harus digolongkan sebagai perilaku normal. Bahayanya sangat rendah bukan? Hanya lecet!

Apakah masturbasi merugikan?

Masturbasi hanya merugikan apabila membuat seseorang tidak lagi tertarik melakukan hubungan seksual dengan pasangannya. Gara-gara keenakan bermasturbasi, hubungan seksual dengan pasangan lantas ditiadakan. Kondisi ini bisa mengancam keutuhan rumah tangga karena tidak dipenuhinya hasrat seksual salah satu pasangan. Akan tetapi kejadian seperti ini sangat langka. Pada sebagian  besar pasangan justru membantu kehidupan seksual karena masing-masing jadi lebih memahami seksualitasnya sendiri, sehingga bisa melakukan hubungan seksual dengan lebih baik. Jadi, tidak cukup alasan untuk menyebut masturbasi merugikan. Hm… mungkin ada, menyebabkan tisu lebih cepat habis!

Apakah masturbasi menghambat kehidupan pelaku?

Masturbasi menjadi masalah ketika dilakukan di depan publik. Meskipun memalukan, tapi ada saja yang melakukannya. Selain itu masturbasi juga menimbulkan masalah jika menimbulkan stres pada pelaku dan menghambat aktivitas sehari-hari.

Pernahkah ada kasus gara-gara kecanduan masturbasi lantas kehidupannya jadi terganggu? Sekolah enggan, kerja enggan, ke mana-mana enggan. Yang dilakukan hanya di dalam kamar. Keluar kamar hanya untuk makan. Jawabnya pernah. Selalu ada orang yang begitu. Tapi kasusnya adalah kasus langka. Sangat sedikit orang yang mengalami hal seperti itu. Dipercaya, jika pun diadakan survei, jumlahnya tidak akan lebih dari 0,1% dari seluruh pelaku masturbasi.

Masturbasi menimbulkan stres? Ya, jika masturbasi menjadi kompulsif atau ingin dilakukan secara berulang-ulang tanpa terkendali. Ketika masturbasi tidak dilakukan maka akan uring-uringan dan menimbulkan mood jelek. Selain itu stres juga timbul jika setelah bermasturbasi merasa diri menjadi pelaku dosa dan terus terbebani dengan perasaan berdosa itu.

Fakta bahwa masturbasi dilakukan mayoritas orang dan secara berulang dilakukan menunjukkan bahwa stres hanya dialami oleh sedikit orang dan tidak menimbulkan hambatan berarti. Jadi, masturbasi adalah perilaku normal, karena secara umum tidak menimbulkan hambatan apapun bagi pelaku.

Apakah masturbasi tidak memberikan manfaat bagi pelaku?

Masturbasi itu menyenangkan. Atas alasan ini saja, sudah seharusnya masturbasi dianggap normal. Masturbasi menghasilkan perasaan rileks dan mengurangi stres. Pada saat tidak bisa tidur, masturbasi bisa membantu tidur nyenyak. Diketahui masturbasi juga bisa mencegah kanker prostat. Di luar itu masih ada beberapa manfaat lain dari perilaku bermasturbasi. Jadi, sudah tentu masturbasi bermanfaat. Oleh karenanya masturbasi sudah seharusnya digolongkan sebagai normal.

Kamu sudah melihat di atas bahwa dari 5 kategori untuk melihat suatu perilaku disebut normal atau tidak, semuanya menuju pada kesimpulan yang sama, normal. Oleh karena itu, masturbasi jelas bukan perilaku abnormal terlepas dari isu moral dan keharamannya.

Posting Komentar untuk "Masturbasi, Normalkah?"