Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bakat Aku Apa Ya?

 Bakat Aku Apa Ya?

Selain urusan asmara, pertanyaan-pertanyaan paling mencemaskan bagi pemuda, mungkin termasuk kamu, adalah “Bakat aku apa ya?”

Mereka cemas jika diri mereka tidak memiliki bakat apapun. Mereka was-was kalau mereka ternyata tidak memiliki cukup bakat untuk sukses di suatu bidang yang mereka minati. Mereka khawatir tidak akan menjadi sesukses yang diimpikannya hanya gara-gara bakatnya tidak mendukung.

Mereka berpikir “Hanya jika cukup berbakat maka bisa sukses. Semakin berbakat maka akan semakin sukses. Semakin kurang berbakat maka semakin kurang sukses.” Satu hal mereka benar, yakni bahwa bakat ‘menunjang’ kesuksesan. Namun sisanya mereka salah sama sekali.

Bakat Aku Apa Ya?

Apa itu bakat?

Secara sederhana, bakat bisa dianggap sebagai potensi kemampuan seseorang untuk mengerjakan sesuatu. Potensi kemampuan itu apabila terus diasah dan dilatih secara maksimal akan membuat pemiliknya memiliki kemampuan melebihi rata-rata orang. Jadi, bakat itu hanyalah ‘potensi’, tidak lebih. Sukses merupakan soal lain.

Bakat muncul dari mana?

Bakat ada karena dimunculkan. Memang ada orang-orang yang dilahirkan dengan kondisi fisik khusus yang membuat mereka tidak mungkin akan bisa menguasai suatu bidang melebihi rata-rata orang lainnya. Sebagai contoh, orang yang kakinya lemah atau pincang sejak lahir dan tidak bisa lagi dipulihkan, maka sudah tentu dia tidak akan bisa menjadi pemain sepakbola handal. Dengan demikian, bisa dikatakan dia tidak berbakat dalam sepakbola.

Apakah setiap orang memiliki bakat?

Setiap orang memiliki bakat. Semua orang tanpa terkecuali memilikinya. Pada dasarnya, asalkan secara fisik normal dan memiliki kecerdasan normal, maka seseorang memiliki potensi untuk melakukan apapun.

Tapi tidak ada orang yang sempurna kan? Tidak mungkin kita akan menjadi hebat melebihi rata-rata orang dalam semua hal yang kita lakukan. Ada hal-hal tertentu dalam diri kita yang lebih kuat dibandingkan hal-hal lain. Nah, kekuatan dalam diri kita itulah potensi kita.

Harus kita akui, ada orang yang memiliki bakat lebih besar dari yang lain. Mengapa demikian? Apabila bukan karena persoalan fisik, maka jangan khawatir, mereka yang lebih besar bakatnya adalah karena mereka terasah lebih dini dan lebih meminatinya. Jadi, siapa yang berminat lebih tinggi, maka dialah yang bakatnya lebih besar.

Kebanyakan orang berpikir bahwa menjadi ilmuwan, penemu atau peneliti, merupakan jatahnya orang-orang supercerdas yang IQ-nya di atas 140. Padahal, semua orang yang memiliki kecerdasan normal memiliki potensi menjadi ilmuwan. Untuk disebut berbakat dalam bidang keilmuan, seseorang itu harus memiliki rasa ingin tahu yang super tinggi, mampu bekerja dan berpikir secara sistematis, mampu fokus pada satu hal secara terus menerus, kreatif menciptakan terobosan, serta memiliki kecintaan mendalam terhadap bidangnya.

Bagaimana kamu bisa tahu bakatmu?

Bagaimana kamu tahu bakat kamu apa jika kamu tidak pernah melakukan sesuatu? Tidak ada seorangpun bisa tahu bakatnya jika tidak pernah melakukan apa-apa. Bakat itu hasil tindakan. Bakatmu terlihat dengan sendirinya ada pada dirimu jika kamu melakukan berbagai hal dalam hidupmu.

Misalnya, karena kamu suka mendengarkan musik, maka kamu berlatih memainkan gitar. Oleh karena kamu senang musik, kamu pun memutuskan berlatih piano. Oleh karena kamu mencintai musik, maka kamu mulai menciptakan komposisi-komposisi musik. Lantas, ketika kamu merasa memiliki kemampuan melebihi teman-temanmu dan orang lain pun melihatmu memiliki kelebihan, lalu kamu dinilai berbakat musik. Dirimu sendiri pun menyadari kalau kamu berbakat musik. Karena tahu dirimu berbakat musik, kamu pun semakin bersemangat menekuni dunia musik. Kamu berlatih keras untuk semakin piawai dan mahir.

Jadi, lakukan banyak hal berbeda dalam hidupmu, seriusi setiap aktivitas itu. Cermati aktivitas-aktivitas yang membuatmu merasa ketika melakukannya kamu bisa seperti lupa waktu. Rasanya, kamu baru sebentar saja melakukannya, tapi ternyata kamu telah menghabiskan waktu begitu lama untuk melakukannya.

Aktivitas-aktivitas itu adalah aktivitas kreatif yang memerlukan pengerahan kemampuan dirimu. Misalnya menonton film bukanlah aktivitas kreatif, tetapi membaca skenario-skenario film, menonton film untuk melihat kekhasan setiap film, membuat perbandingan antar film, lalu membuat scenario film adalah aktivitas-aktivitas kreatif terkait film.

Tahukah kamu jika Lionel Messi saat kecilnya menderita penyakit yang membuat tulang dan ototnya tidak berkembang? Penyakit tersebut membuat Messi harus berhenti bermain sepakbola karena tulang dan ototnya tidak cukup kuat. Orangtuanya yang tergolong keluarga miskin tidak mampu mengobatinya. Tapi karena Messi sejak sangat kecil sudah sangat mencintai sepakbola, dia selalu ingin menendang bola meskipun sudah divonis untuk berhenti bermain bola.

Jika saja Messi berhenti bermain bola saat itu, maka kita tidak akan melihat kelincihannya di lapangan sekarang ini. Meskipun Messi tahu sangat besar kemungkinannya tidak akan bisa menjadi pemain sepakbola professional, tapi dia tetap bermain. Skillnya pun makin terasah. Sampai suatu ketika seorang pencari bakat klub Barcelona datang menawari orangtua Messi untuk mengobati Messi sekaligus memberinya kontrak.

Dari cerita Messi kita tahu bahwa bakat adalah hasil kerja keras.

Posting Komentar untuk " Bakat Aku Apa Ya?"