Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pensiun dan Gejala Depresi

Pensiun dan Gejala Depresi

Pensiun dan Gejala Depresi

Salah satu masa dalam kehidupan manusia yang rentan terhadap depresi yaitu masa pensiun. Kenapa? 

Menurut Blakburn & Davidson (dalam Kuntjoro, 2002) ada beberapa kondisi yang menyebabkan pensiunan mengalami depresi, antara lain yaitu: 

1. Perubahan kondisi

Pensiunan baik pensiun pegawai negeri, swasta, maupun yang bergelut dalam dunia bisnis seringkali dianggap sebagai kenyataan yang tak menyenangkan. Sehingga menjelang masanya tiba, sebagian orang telah merasa cemas dikarenakan tidak tahu kehidupan yang seperti apa yang bakal dihadapi nanti.

Dalam era modern layaknya sekarang ini, pekerjaan merupakan salah satu faktor terpenting yang mampu mendatangkan kepuasan karena uang, jabatan dan menguatkan harga diri. Oleh karenanya, sering terjadi orang yang pensiun bukannya mampu menikmati masa tua dengan hidup santai, sebaliknya, ada yang malahan mengalami problem serius pada kejiwaan atau fisiknya.

2. Usia 

Banyak orang yang takut menghadapi masa tua dikarenakan asumsinya bila telah tua, maka fisik bakal makin lemah, makin banyak penyakit, cepat lupa, penampilan makin tak menarik dan makin banyak hambatan lain yang mengakibatkan hidup makin terbatas. 

Pensiun sering diidentikkan bersama tanda seseorang memasuki masa tua. Banyak orang yang mempersepsikan dengan cara negatif, menganggap bahwa pensiun merupakan pertanda dirinya sudah tak berguna dan tak diperlukan lagi dikarenakan usia tua dan produktivitas makin menurun, sehingga tidak menguntungkan lagi bagi organisasi atau perusahaan tempat mereka bekerja. 

Seringkali pemahaman perihal itu tanpa sadar mempengaruhi persepsi seseorang sehingga ia menjadi over sensitif dan subyektif terhadap stimulus yang ditangkap. Kondisi ini lah yang mengakibatkan orang jadi sakit-sakitan saat pensiun tiba.

Lebih lanjut, Marie Blakburn & Kate Davidson (dalam Kuntjoro, 2002) mengemukakan bahwa gejala-gejala psikologis adanya depresi bila ditinjau terhadap beberapa aspek, adalah sebagai berikut: 
  1. Suasana hati, ditandai dengan kesedihan, kecemasan dan mudah marah. 
  2. Berpikir, ditandai dengan mudahnya hilang konsentrasi, lambat dan kacau dalam berpikir, menyalahkan diri sendiri, ragu-ragu dan harga diri rendah. 
  3. Motivasi, ditandai dengan kurang minat bekerja atau menekuni hobi, menghindari kegiatan kerja dan sosial, ingin melarikan diri, ketergantungan tinggi terhadap orang lain. 
  4. Perilaku, ditandai dengan gelisah, terlihat dengan gerakan yang lamban, sering mondar-mandir, menangis dan mengeluh.
  5. Hilang nafsu makan atau nafsu makan bertambah, hilang hasrat seksual dan tidur terganggu.
Menurut Kim, J., E. & Moen, P., (dalam Rini 2001) dari Cornell University meneliti hubungan antara pensiun dengan depresi. Keduanya menemukan bahwa wanita yang baru pensiun cenderung mengalami depresi kian tinggi dibandingkan dengan wanita yang telah lama pensiun atau bahkan yang masih bekerja, terutama bila sang suami tetap bekerja. 

Selanjutnya, bagi pria yang baru pensiun cenderung lebih banyak mengalami konflik pernikahan dibandingkan dengan yang belum pensiun. Pria yang baru pensiun namun istrinya tetap bekerja cenderung mengalami konflik pernikahan yang kian tinggi dibandingkan dengan pria yang sama-sama baru pensiun namun istrinya tak bekerja. 

Pria yang pensiun dan kembali bekerja serta mempunyai istri yang tak bekerja, maka keduanya punya semangat lebih tinggi dibandingkan dengan pasangan yang keduanya sama-sama tak bekerja.

Posting Komentar untuk "Pensiun dan Gejala Depresi"