Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Duh, Anakku Suka Membantah

 Duh, Anakku Suka Membantah

Duh, Anakku Suka Membantah

Tak selamanya anak bersikap manis dan penurut. Bahkan di saat-saat tertentu anak justru sering membantah. Jangan kaget menghadapinya. Dengan penanganan yang tepat, anak yang suka membantah bisa dikendalikan.

Dalam rentang usia 8 sampai 11 tahun, anak bisa tampil mengejutkan orangtua dengan tiba-tiba menjadi “doyan” membantah. Kapan waktu tepatnya, tentu tak ada patokan pasti. Di rentang usia ini perilaku membantah yang memusingkan kepala orangtua lebih sering ditemukan.

Pada usia 8 hingga 11 tahun, anak memang tengah mengalami fase-fase peralihan fisik dan emosi dari rentang hidup sebagai anak-anak menuju masa remaja. Pada masa ini, anak sangat ingin menunjukkan identitas pribadi, sementara orientasi dirinya justru sedang bergeser. Dalam berbagai perbedaan kepentingan dan “rasa” anak pun memunculkan sikap membantah sebagai unjuk diri.

Membantah sebagai protes

Bila sikap membantah muncul pada rentang usia 8 sampai 9 tahun, jelas ini penyebabnya bisa jadi sikap orangtua yang terlalu melindungi atau over protective. Padahal di usia anak 8 sampai 9 tahun, anak tidak suka perlindungan yang berlebihan dan bahkan sedang memiliki rasa ingin tahu amat besar terhadap lingkungan. Jika terlalu dibatasi, anak akan cenderung memberontak, menolak, yang kemudian diartikan orangtua sebagai sikap membantah.

Namun sebaliknya, anak usia di bawah 8 tahun juga bisa membantah sebagai wujud protes. Misalnya, anak yang protes karena orangtuanya terlalu sibuk, sehingga kurang memperhatikan dirinya. Padahal, bagi anak, perhatian dan kasih sayang orangtua merupakan faktor penting bagi keamanan dan kenyamanan hidupnya.

Oleh karena itu, perhatian dan kasih sayang orangtua harus diberikan dalam porsi pas, agar tidak diterima anak terlalu besar dan membuat anak tertekan. Sebaliknya, membiarkan anak tanpa aturan pun juga tidak baik. Ada pula orang tua yang mengartikan perhatian dan kasih sayang dengan menuruti semua keinginan anak dan semua serba boleh. Yang seperti itu juga salah, dampaknya nanti anak menjadi susah diatur.

Pola asuh tarik ulur

Kadang sikap membantah juga muncul sebagai suatu bentuk ungkapan perbedaan pendapat. Beda pendapat tentu sah-sah saja, karena kita semua memahami bahwa tak mungkin selamanya pendapat orangtua dan anak sejalan.

Namun, dibutuhkan sebuah dialog dan kompromi agar perbedaan pendapat ini bisa dijembati dan tidak hancur hanya dalam kubangan saling membantah. Jembatan akan memudahkan orangtua dan memandang perbedaan untuk dicari jalan tengah, bukan sebagai jalan anak untuk membantah orangtua atau sebaliknya jalan orangtua yang marah pada anak.

Pola asuh yang paling baik yaitu pola asuh yang menetapkan sistem demokratis, dimana orangtua mengartikan perhatian dan kasih sayang dengan cara tarik ulur, kadang dibatasi namun suatu saat dilepas. Dengan pola asuh ini, orangtua mau mendengarkan pendapat atau ide dari anak-anaknya, namun tetap memberi batas.

Misalnya, Ketika anak mau menonton televisi pada pukul 6 sore, orangtua tidak langsung melarang karena pasti akan terjadi perbedaan pendapat dan anak akan membantah, tetapi cobalah bernegosiasi bahwa anak boleh menonton dengan syarat setelah pukul 7 malam harus belajar. Bila melanggar, konsekuensi yang disepakati harus jelas. Misalnya, besok tidak boleh menonton lagi.

Penerapan dengan cara ini bisa meyakinkan anak bahwa orangtua memberikan kepercayaan sekaligus memintanya menjaga tanggung jawab dan disiplin.

Bangun kepercayaan dan jadilah sahabat anak

Masa peralihan dari anak menuju dewasa memang merupakan masa kritis pada anak, sehingga orangtua perlu memahaminya pula. Bila di masa sebelumnya belum terbangun kepercayaan yang kokoh, orientasi anak tentu akan lebih dominan tersedot pada teman sebayanya. Maka jurus jitu untuk menjadi sahabat anak dimasa peralihanya adalah dengan membangun komunikasi yang efektif, sejak sekarang.


Posting Komentar untuk "Duh, Anakku Suka Membantah"